Resensi Novel Surat Kecil Dari Surga karya Kirana Kejora

Assalamualaikum Warohmatullaahi Wabarokatuh.

Saya mempunyai contoh resensi buku berjudul Surga Kecil Dari Surga yang ditulis oleh Kirana Kejora. Mungkin disini masih banyak kekurangan namun mudah-mudahan bisa sedikit membantu anda.

Resensi

Surat Kecil Dari Surga

karya : Kirana Kejora
oleh : Arrijal Istighfarotudzdzilal

A.      Identitas Buku
1.       Judul buku          : Surat Kecil Dari Surga
2.       Pengarang          : Kirana Kejora
3.       Penerbit              : HI-FEST Production
4.       Tahun terbit       : 2017
5.       ISBN                      : (13)978-602-60644-3-1
6.       Cetakan ke         : 1
7.       Tebal buku          : 192 Halaman

B.      Sinopsis

Berawal dari dua gadis yang tinggal di panti asuhan. Mereka hidup tanpa bersama ayahnya. Wanda, adalah anak semata wayang Ibunya yang juga sebagai pekerja PSK untuk memenuhi kebutuhan diri dan anaknya. Sementara Hanum, teman Wanda yang setia dengannya. Hanum tidak mempunyai bapak maupun Ibu sejak ia masuk ke panti asuhan. Setelah beberapa tahun, mereka berdua keluar dari panti asuhan, melanjutkan jalan hidupnya masing-masing. Wanda hidup bersama Ibunya di sebuah desa. Hanum bekerja di sebuah kafe, menjadi pelayan disana.

Cinta datang tak disangka. Hanum mulai jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang selalu datang ke kafe tempat ia bekerja. Tak lama kemudian, ia menikah dengan pria tampan bernama Agung. Hanum senang sekali menikah dengan pasangan yang ia cintai. Namun di balik itu,  orangtua dari pihak Agung tidak menyetujui pernikahannya dengan gadis yang dinikahinya. Orangtua Agung sebenarnya sudah menyiapkan pasangan terbaik bagi Agung. Ternyata Agung sudah menikah dengan gadis yang orangtuanya tidak kenal sejak awal. Walaupun orangtuanya takut segala macam terhadap masa depan Agung, Agung hanya menganggap ucapan orangtuanya seperti angin yang hanya lewat dan menghilang.

Setelah lama menikah, kedua pasangan ini dikaruniai oleh anak yang diberi nama Bintang Maharani. Keseriusan dalam membangun rumah tangga makin meningkat sejak anak pertamanya lahir. Dan sejak itu pula, Agung mendapatkan pekerjaan yang gajinya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, walaupun belum dikatakan sebagai pekerjaan tetap. Hanum mulai membuka usaha kecil-kecilan dengan membuat katering dan penjahitan. Dari kehidupan itulah Bintang dibesarkan.

Hal buruk pun terjadi. Agung, istrinya Hanum, perlahan mulai kehilangan pekerjaannya. Hanum sebagai pendamping suami, mengajak Agung untuk membesarkan usaha yang didirikan Hanum. Agung mengelak dan memaksakan diri untuk tetap mencari pekerjaan. Uang tabungan ikut menipis disertai Agung yang belum mentapatkan pekerjaan tetap alias masih pindah-pindah. Agung mencoba membangun ekonomi keluarganya dengan ikut trading dan berjualan saham layaknya orang-orang sukses. Agung rela membeli mobil dengan kredit agar dilihat seperti orang kaya. Hasilnya tak memuaskan. Pemasukan per bulannya sebanding dengan pengeluaran per bulan, bahkan bisa kurang. Melihat keadaan rumah tangganya yang semakin kacau, penyakit yang dimiliki Agung mulai kambuh. Penyakit ini tidak diketahui oleh istrinya. Hingga Agung dibawa ke rumah sakit untuk melakukan check up. Setelah melihat hasilnya, Agung menderita penyakit yang disebabkan oleh virus yang mematikan.

Kecewa dan sedih bercampur jadi satu mendengar bahwa Agung mempunyai masa lalu yang kelam. Sebelum Agung mempunyai pribadi yang bijaksana, Agung adalah pecandu narkoba sejak ia menginjak usia remaja tanpa diketahui oleh orangtuanya. Ia dan temannya selalu menggunakan jarum suntik secara bergantian. Lalu Agung mendapatkan penanganan dan dimasukkan ke tempat rehabilitasi. Hanum hanya bisa memendam sesak sedih melihat Agung yang umurnya kira-kira dalam hitungan bulan. Tidak hanya itu. Secara otomatis Hanum dan Bintang juga kena imbasnya. Pada akhirnya, Agung meninggal pada saat Bintang berusia 5 tahun, meninggalkan anak dan istrinya dengan virus mematikan yang telah terjangkit di tubuh mereka berdua.

C.      Unsur Intrinsik
1.       Tema                     : Perjuangan seorang Ibu dan anak melawan virus yang mematikan
2.       Alur                        :
a.       Maju
·         “Menginjak tahun ke lima keadaan mulai labil.” (Hal. 16 baris ke-13)
3.       Penokohan         :
a.       Wanda
b.      Hanum
·         Tegas : “Hanum harus bersikap bijaksana, dia tidak boleh mengurangi hak-hak Bintang sebagai anak.” (Hal. 76 baris ke-3)
c.       Agung
·         Jujur : “Aku tertarik kepadamu sejak kami makan di sini. Mungkin aku brengsek. Tapi aku jujur dengan hatiku.” (hal. 6 baris ke-24)
d.      Bintang
·         Periang : “Bintang dengan wajah ceria membukakan pintu rumah ketika Ajeng belum sampai mengetuknya.”(Hal. 77 baris ke-15)
e.      Dokter Luhur
·         Ringan tangan : “Lalu tanpa beban, dokter yang begitu baik itu membopong Bintang keluar dari kamar praktek diikuti Hanum yang berpikir …” (Hal. 110 baris ke-26)
f.        Ajeng
g.       Orangtua Agung
h.      Ibu Panti
i.         Bang Sukron
4.       Seting                   :
a.       Tempat
·         “Hanum yang baru masuk kamar dengan segala keletihannya, mendadak muram.” (Hal. 94 baris ke-21)
b.      Waktu
·         “Minggu pagi, Bintang begitu ingin mengenakan baju barunya,…” (Hal. 134 baris ke-1)
c.       Suasana
·         “… tercurah titik-titik air yang deras membasahi tanah. Hembusan angin cukup kencang, nampak dari lambaian-lambaian pelepah…”(Hal. 111 baris ke-12)
5.       Gaya Bahasa      :
a.       Majas Personifikasi
·         “Nahar matanya enggan berbicara, namun ingin berkata.” (Hal. 80 baris ke-12)

D.      Jenis Buku                           : Novel fiksi
E.       Latar Belakang                   : Kirana Kejora adalah salah satu penulis yang terpilih sebagai salah satu Tokoh Inspiratif Sidoarjo pada tahun 2013. Sebelum beliau menjadi penulis, beliau adalah Peneliti Sosial Ekonomi Perikanan UniBraw (1991-1993). Kirana Kejora menulis buku Surat Kecil Dari Surga karena terinspirasi oleh kisah nyata keikhlasan gadis kecil yang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masa Depan Hanyalah Angan-angan

Agama